Sore itu, Masjid H. Muhammad Zainuddin Kamal yang berdiri megah di dalam lingkungan Pondok Pesantren Darul Kamal NW Kembang Kerang tampak begitu hidup dan bercahaya. Langit sore yang redup seolah menjadi saksi cinta dan kerinduan ratusan ibu-ibu Muslimat yang datang berbondong-bondong dengan langkah penuh keikhlasan. Wajah-wajah mereka berseri, ada yang membawa mushaf kecil, ada yang menggenggam tasbih, dan semuanya datang dengan satu tujuan: menyuburkan cinta kepada Rasulullah ﷺ melalui kajian Syamail Muhammadiyah yang rutin dilaksanakan setiap hari Selasa pukul 14.30 WITA.
Kajian yang penuh berkah ini sejatinya bukan hal baru. Ia telah menjadi tradisi mulia yang berlangsung sejak lama, diwariskan dari generasi ke generasi. Dahulu, kajian ini dibawakan langsung oleh ayahanda Tuan Guru Muda, al-Mukarrom TGH. Muhammad Ruslan Zain — sosok ulama besar yang penuh wibawa dan kasih. Dari lisannya mengalir nasihat-nasihat lembut tentang kepribadian Rasulullah, yang menembus hati dan menumbuhkan cinta sejati di dada para jamaah. Kini, semangat dan warisan beliau terus hidup, diteruskan oleh para penerusnya yang menjaga api dakwah agar tak pernah padam.
Ketika pembicara mulai membaca kisah tentang kelembutan Rasulullah ﷺ dalam memaafkan musuh, atau bagaimana beliau memperlakukan sahabat dengan penuh kasih, suasana di dalam masjid berubah hening. Terdengar isak tertahan, terlihat mata yang basah. Para ibu Muslimat tak kuasa menahan haru — seolah mereka sedang berhadapan langsung dengan sosok mulia yang selalu mereka rindukan. Setiap kalimat yang terucap bukan hanya ilmu, melainkan getaran cinta yang menyentuh hati paling dalam.
Kitab Syamail Muhammadiyah, karya agung Imam at-Tirmidzi, menjadi panduan utama dalam kajian ini. Di dalamnya tergambar dengan begitu indah seluruh sisi kehidupan Rasulullah ﷺ: wajahnya yang bercahaya, senyumnya yang menenangkan, tutur katanya yang lembut, hingga kesederhanaannya dalam berpakaian dan makan. Semua kisah itu mengajarkan bahwa kesempurnaan Nabi bukan hanya pada mukjizat, tetapi pada akhlak dan kasih sayang yang beliau pancarkan kepada seluruh umat manusia.
Manfaat dari kajian ini sungguh luar biasa. Ia menumbuhkan kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah, melembutkan hati yang keras, serta membentuk pribadi Muslimat yang berakhlak mulia dan sabar. Dari majelis inilah lahir para ibu yang menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya — menanamkan cinta kepada Rasulullah di dalam rumah, dalam tutur lembut kepada keluarga, dan dalam doa yang tak pernah putus setiap malam.
Setiap pekan, majelis Syamail Muhammadiyah di Ponpes Darul Kamal bukan sekadar pengajian. Ia adalah perjalanan ruhani menuju cinta sejati kepada Rasulullah ﷺ — dari ilmu menuju rindu, dari rindu menuju pengamalan. Semoga setiap air mata yang jatuh di lantai masjid itu menjadi saksi cinta mereka kepada Nabi yang mulia, dan semoga Allah menjaga keberlangsungan majelis ini sebagaimana Allah menjaga hati orang-orang yang mencintai Rasul-Nya.
✨ Masjid itu bukan sekadar tempat duduk berzikir dan mendengar tausiyah. Ia telah menjadi taman cinta, tempat di mana rindu pada Rasulullah tumbuh, bersemi, dan diwariskan — dari generasi TGH. Muhammad Ruslan Zain hingga kini, di hati para ibu Muslimat Ponpes Darul Kamal NW Kembang Kerang.
