TGH.M.Ruslan Zain lahir di Desa Anjani Lombok Timur, desa asal ibunda beliau pada tanggal 3 Maret 1953. Beberapa hari setelah kelahirannya diboyong orangtuanya ke Desa Kembang Kerang Lombok Timur, dan menetap sampai sekarang. Lahir dengan nama Muhammad Ruslan. Muhammad Ruslan merupakan putra pertama dari H. Zainuddin dan Hajjah Fatmah. Beliau putra satu-satunya dari lima bersaudara kandung yaitu ; TGH. M. Ruslan Zain, Hajjah Nur ‘Azizah, Hajjah Khairiyah, Hajjah Selamah, S.Pd, Hajjah Nur Hidayah, S.Ag dan Hajjah Rukaiyah, S.Pd.
Sejak kecil beliau memiliki dan dikenal sangat jujur dan cerdas, sehingga tidak mengherankan kalau ayah bunda beliau memberi atensi khusus dan menumpahkan kecintaan serta kasih sayang yang begitu besar kepada putra semata wayang ini. Ayahnya seorang saudagar dan petani. Ia juga dikenal sebagai tokoh agama dan keturunan terpandang dalam masyarakat yaitu keturunan H. Umar dan H. Kamaluddin yang pernah menjabat sebagai penghulu di Desa Kembang Kerang. Pada mulanya Muhammad Ruslan belajar agama ( al-Qur’an pada Ust.H. Mu’min ) di kampung halamannya disamping memperoleh pendidikan formal di Sekolah Rakyat ( sekarang SDN 1 Kembang Kerang ) selesai tahun 1965. Hasratnya yang begitu besar terhadap ilmu agama memotivasinya untuk belajar dan mengaji ke Pancor lombok Timur.
Pancor saat itu merupakan pusat pendidikan agama Islam di Indonesia kawasan Timur karena memiliki Madrasah dan lembaga sebagai tempat menggembleng kader-kader pejuang Islam. Pancor terkenal sebagai tempat lahirnya organisasi terbesar di Nusa Tenggara Barat yaitu Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh al-Maghfurulah TGKH.Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Disinilah Ruslan remaja mempelajari semua disiplin ilmu keagamaan seperti Tafsir, Hadits, Mantiq, Balaghah, Nahwu, Sharf, Fiqh dan berbagai disiplin ilmu umum lainnya. Pendidikan di Pancor inilah yang membawa Ruslan remaja memperoleh Futuh al-Awwal dari gurunya al-Maghfurulah TGKH.M. Zainuddin ‘Abdul Majid. Dari guru besar inilah M. Ruslan remaja disarankan untuk belajar ke Makkah al- Mukarramah usai menamatkan studinya di Madrasah Mu’allimin 6 tahun 1971, tepatnya di Madrasah al-Shawlatiyyah. Madrasah tertua di tanah suci Makkah.
Di Madrasah al-Shawlatiyah inilah, spirit mengajinya berkobar melahap berbagai disiplin ilmu keislaman. Selama 5 tahun mendalami dan menyelami ilmu keislaman inilah TGH.M. Ruslan tumbuh menjadi remaja yang gandrung pada kajian keislaman sehingga hasrat ini terbaca oleh orang tuanya. Karena didukung kondisi ekonomi memadai, tingkat kecerdasan yang tinggi, ketekunan dalam belajar, garis keturunan terpandang, kasing sayang serta keikhlasan kedua orang tua dan do’a restu dari guru-gurunya. Beliau memperoleh prestasi yang sangat memuaskan sehingga beliau berhasil dengan gemilang menyelasaikan studi di Madrasah al-Shawlatiyah. Sang walid H.M.Zainuddin menginginkan putra satu-satunya ini melanjutkan studinya ke Universitas al-Azhar Kairo Mesir dengan memohon izin dan restu dari guru besar beliau al-‘Allamah al-Syaikh Isma’il ‘ Utsman Zain al-Yamani. Guru sekaligus pembimbing yang membentuk karakter ke’ulamaan beliau, dari Syaikh Isma’il inilah TGH.M.Ruslan memperoleh futuh al-Akbar. Tetapi gurunya ini kurang setuju, sehingga beliau disarankan pulang ke Indonesia mengabdi untuk ummat dikampung halamannya Kembang Kerang pada tahun 1976.
Pada waktu belajar di Madrasah al-Shawlatiyah, beliau banyak mendapat perhatian dari guru-gurunya. Dengan pribadi yang penuh dengan kesederhanaan dan keikhlasannya dalam menuntut ilmu, beliau sangat dicintai dan dipuji oleh guru-gurunya. Diantara guru-gurunya di Madrasah al-Shawlatiyah yang mencintai dan memuji beliau adalah al-‘Allamah al-Syaikh ‘Abdullah al-Lahji, seorang ulamamutaffannin di berbagai bidang ilmu keislaman. Maulana Syaikh ini berkata kepada muridnya yang muda ini dengan ekspresi : “ Aku mencintaimu, namun aku tidak mencintai tulisanmu”
Pernyataan gurunya memang sebuah realitas, TGH.M. Ruslan sampai saat ini, jika beliau menulis baik menggunakan hurup arab maupun aksara latin, tampaknya biasa-biasa saja dan jauh dari kaidah-kaidah seni kaligrafi. Maksudnya tulisan beliau bukan tidak bisa dibaca, namun kurang seni menurut seniman kaligrafi. Isyarat gurunnya diatas maksudnya adalah kepribadian beliau jauh lebih baik daripada goresan tangannya. ( BERSAMBUNG)
Yaumul Milad ke-73 Tahun TGH. M. Ruslan Zain (3 Maret 1953 – 3 Maret 2026)
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, hari ini kita bersyukur atas bertambahnya usia dan keberkahan hidup TGH. M. Ruslan Zain yang genap berusia 73 tahun. Tujuh puluh tiga tahun bukanlah perjalanan yang singkat, melainkan rentang waktu penuh pengabdian, doa, nasihat, dan keteladanan bagi keluarga, jamaah, dan masyarakat. Semoga di usia yang penuh kematangan ini, Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya. Semoga Allah mengangkat segala penyakit beliau, mengembalikan kesehatan seperti sediakala, menguatkan jasmani dan rohani, serta menganugerahkan umur yang panjang dalam kebaikan dan keberkahan. Kami juga berdoa, semoga seluruh keluarga dan keturunan beliau senantiasa diberikan kesehatan, kelapangan rezeki, kemudahan dalam segala urusan, serta kehidupan yang penuh barokah dan ridha Allah SWT. Ya Allah, panjangkan umur beliau dalam ketaatan kepada-Mu, jadikan setiap detik hidupnya bernilai ibadah, dan limpahkan kebahagiaan dunia serta akhirat. Barakallahu fii umrik, TGH. M. Ruslan Zain. Semoga Allah senantiasa menjaga dan memuliakan beliau. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
