Kalijaga — Suasana penuh khidmat dan keilmuan menyelimuti Masjid Al-Ittihadussholih Kalijaga saat majlis taklim rutin kembali digelar. Kegiatan ini merupakan program rintisan dari almarhum ninik Tuan Guru H. Muhammad Sholeh Ahmad yang sejak awal berdirinya telah menjadi wadah pembinaan spiritual dan penguatan ilmu agama bagi masyarakat setempat. Semangat dakwah dan pendidikan Islam tersebut kini diteruskan oleh generasi penerusnya, yakni TGH. H. M. Ruslan Zain, dan dilanjutkan oleh TGM. H. Muhammad Ruslan Zainuddin Ruslan, Lc., M.A.

Dalam majlis taklim tersebut, Tuan Guru Muda H. Muhammad Ruslan Zainuddin Ruslan, Lc., M.A. tampil sebagai penceramah utama dengan membawakan kajian dari dua kitab besar karya Imam An-Nawawi, yaitu Riyadhus Shalihin dan Al-Azkar. Kedua kitab ini dikenal luas di kalangan ulama dan santri karena memuat ajaran-ajaran tentang akhlak, ibadah, dan amalan harian yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Melalui kajian ini, jamaah diajak untuk memahami nilai-nilai keikhlasan, kesabaran, serta pentingnya menjaga lisan dan hati dalam beribadah.

Masyarakat tampak hadir dengan penuh antusiasme. Mereka mengikuti setiap penjelasan dengan khusyuk, mencatat nasihat-nasihat penting, dan tidak sedikit yang meneteskan air mata saat mendengar kisah-kisah keteladanan para sahabat dan ulama salaf. Suasana hangat dan kekeluargaan begitu terasa, memperlihatkan bahwa majlis ini bukan sekadar tempat belajar agama, tetapi juga ruang silaturahmi dan penyucian hati bagi para jamaahnya.

Majlis taklim ini dilaksanakan sekali dalam sebulan dan telah menjadi agenda yang sangat dinanti oleh warga Kalijaga dan sekitarnya. Dalam setiap pertemuan, para jamaah mendapatkan pencerahan tentang amalan-amalan ringan yang memiliki pahala besar di sisi Allah. Salah satu bahasan utama kali ini adalah amalan dan bacaan setelah salat fardu yang memiliki nilai pahala setara dengan ibadah haji dan umrah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis sahih.

Melalui kajian tersebut, TGM. H. Muhammad Ruslan menekankan pentingnya konsistensi dalam berdzikir dan berdoa setelah salat. Menurut beliau, amalan-amalan sederhana seperti membaca tasbih, tahmid, dan takbir dengan penuh kesadaran dan keikhlasan dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Bukan seberapa banyak amal kita, tetapi seberapa ikhlas hati kita dalam beramal,” tutur beliau dalam ceramahnya yang penuh kelembutan dan hikmah.

Majlis Taklim Al-Ittihadussholih Kalijaga kini terus menjadi lentera keilmuan bagi masyarakat. Dengan kesinambungan estafet dari generasi ke generasi, majlis ini bukan hanya menjaga tradisi pengajaran kitab klasik, tetapi juga meneguhkan semangat dakwah dan kecintaan kepada ilmu. Harapannya, kegiatan seperti ini terus tumbuh dan memberi manfaat luas bagi umat, menjadi penguat iman di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.