Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang serba cepat, ada satu oase ketenangan yang terus tumbuh di Lendang Bunga Kalijaga Baru pengajian rutin dua kali sebulan di Masjid Nurul Wathan. Di bawah kepemimpinan H. Yakub Khair, QH., SH, majelis taklim ini telah menjadi ruang spiritual yang menyejukkan hati. Setiap pertemuan selalu menghadirkan aura penuh hikmah, terutama ketika penceramah tetap, Tuan Guru Muda H. Muhammad Zainuddin Ruslan, Lc., MA., membawakan kajian dari kitab Bidayatul Hidayah karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali.

Pada pengajian kali ini, tema yang diangkat begitu menarik dan relevan: Kebiasaan Nabi Muhammad dari Bangun Tidur Sampai Tidur Lagi. Sebuah topik sederhana di permukaan, namun sarat makna mendalam bagi kehidupan modern. Umat diajak untuk tidak hanya mengenal sunnah Nabi sebagai teks keagamaan, melainkan sebagai panduan hidup yang praktis dan menenangkan. TGM. H. Zainuddin Ruslan menegaskan bahwa kebiasaan Nabi bukan sekadar ritual, melainkan cerminan kedekatan spiritual dan kesadaran diri di hadapan Allah.

Suasana pengajian terasa begitu hidup. Jamaah, dari kalangan muda hingga sepuh, mendengarkan dengan khusyuk saat Tuan Guru menjelaskan bagaimana Nabi memulai hari dengan dzikir, doa bangun tidur, serta menjaga kesucian diri sebelum beraktivitas. Semua hal itu, kata beliau, merupakan langkah awal membangun kehidupan yang berkah. Bahkan, hal-hal yang dianggap kecil seperti menyisir rambut, berpakaian rapi, dan menjaga senyum di pagi hari, sesungguhnya bagian dari akhlak kenabian yang perlu dihidupkan kembali di tengah masyarakat kita.

Tak kalah menarik, penjelasan tentang bagaimana Nabi menutup harinya. Di bagian ini, jamaah diajak merenung betapa pentingnya introspeksi sebelum tidur mengingat dosa, memaafkan sesama, dan menyerahkan segala urusan kepada Allah. Bagi sebagian jamaah, momen ini menjadi titik refleksi yang menyentuh. “Kadang kita lupa bahwa tidur pun bisa menjadi ibadah, kalau niatnya benar,” ujar salah satu peserta pengajian dengan mata berkaca-kaca. Inilah keindahan ajaran Islam yang sederhana, namun penuh makna jika diamalkan dengan hati yang sadar.

Lebih dari sekadar majelis ilmu, pengajian di Masjid Nurul Wathan ini menjadi semacam madrasah kehidupan. Ia tidak hanya memperkaya wawasan keagamaan, tetapi juga menumbuhkan semangat untuk mengubah perilaku. Banyak jamaah yang mulai berkomitmen menata rutinitas harian mereka sesuai dengan tuntunan Nabi dari cara bangun tidur, berbicara, hingga menata waktu istirahat. Inilah buah nyata dari ilmu yang diamalkan: perubahan kecil yang memberi dampak besar bagi diri dan lingkungan.

Majelis taklim ini layak menjadi contoh bagaimana pengajian dapat menjadi motor spiritual masyarakat. Dengan pembawaan yang santai namun berisi, TGM. H. Muhammad Zainuddin Ruslan berhasil membuat ilmu tasawuf dan adab yang diajarkan Imam Al-Ghazali terasa hidup dan dekat. Di tengah dunia yang semakin materialistis, pengajian seperti ini menjadi pengingat lembut bahwa kebahagiaan sejati bukanlah soal harta atau jabatan, tetapi tentang seberapa dekat kita meniru kebiasaan Nabi dalam keseharian  dari bangun tidur hingga kembali memejamkan mata dalam ridha-Nya.